Rabu, 10 Juli 2013

MANUSIA DAN KECERDASAN


MANUSIA DAN KECERDASAN
(Alm. KH. Moh. Idris Jauhari)
Pada Acara Renungan Malam

Renungan kita kaliini tentang manusia, dalam kaitannya dengan kecerdasan, kepandaian,intelektualitas manusia. Manusia itu terbagi dua kelompok besar: ada yangcerdas, pandai dan cerdik, ada kurang cerdas / kurang pandai / kurang mampumenangkap ilmu-ilmu Allah dengan cepat. Tentu saja setiap kita / setiap siswa /setiap guru, harus berusaha dengan jujur untuk mengetahui sejauh mana tingkatkecedasan / kepandaian yang dia miliki. Sehingga dengan demikian dia (siswa danguru) akan bisa lebih mengenal dirinya/mengenal potensi-potensi dan kemampuanyang dia miliki sekaligus mengenal kelemahan dan kekurangan yang melekat padadirinya. Manusia yang mengenal kelebihan dan kekurangannya, kemudian dibarengidengan ahlak yang mulia, dia menyadari sepenuhnya apa yang menjadi kelebihan dankekurangan dirinya itu, kemudian dia berusaha untuk memanfaatkan mensyukurikelebihan-kelebihannya dan menutupi kekurangan-kekurangan diriya.
Nah manusiaseperti inilah yang insya Allah akan mencapai kesuksesan dalam hidupnya,sekaligus kemenangan yang gemilang, karena apa? Karena orang tersebut sudahmemiliki syarat dasar untuk memperoleh sukses. Rata-rata orang yang tidaksukses itu adalah orang tidak kenal dirinya, dia tidak tahu kelebihannya dantidak kenal kekurangan-kekurangannya. Dia cerdas umpamanya, memiliki kemampuanintelektual yang lebih baik daripada orang-orang disekitarnya. Tapi karenatidak tahu bahwa dirinya cerdas, tidak sadar, maka kecerdasan itu dibiarkantidak berkembang atau bahkan bukan sekedar tidak tahu, dia sebenarnya tahu memilikikecerdasan tapi dia sombong, congkak, dia ujub, bangga dengan kecerdasannyatanpa usaha untuk mengembangkan kecerdasan itu. Ini jelas, orang yang sepertiini tidak mungkin akan meraih “an-najah” kesuksesan tadi itu.
Bagaimana diaakan sukses kalau kelebihan dan potensi yang dia miliki tidak dia kembangakansesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan. Sebaliknya kalau ada orang atausiswa yang dia banyak memiliki kelemahan, pikirannya kurang cerdas, kurangmampu menankap ilmu dengan cepat, tidak bisa menghafal atau mengingat dengankuat. Nah orang seperti ini jelas, menuntut suatu kondisi dimana dia berusahamenutupi kekurangan dan kelemahannya itu. Kalau dia tidak berusaha, umpamanyakarena dia tahu dirinya lemah kemudian putus asa. Bahkan ada satu dua yangkemudian tidak menyadari kelemahan kekurangan dirinya, dia menutup-nutupikelemahannya kebodohannya itu, jelas orang seperti ini tidak akan mencapaikesuksesan dalam hidupnya.
Jadi orangcerdas itu, ada yang insyaallah akan sukses tapi ada juga kemudian gagal dalamhidupnya. Orang yang kurang cerdaspun dibagi dalam dua kelompok, orang yanginsyaallah akan sukses walaupun dia tidak terlalu cerdas, tapi ada juga orangyang tidak cerdas tapi dia akan megalami banyak kegagalan-kegagalan. Olehkarena itu, pertama kali kita harus mengidentifikasi diri kita, apakah termasukkelompok pertama orang-orang yang memiliki kecerdasan lebih ataukah masukkelompok kedua yang memiliki kekurangan ketidakcerdasan/kelemahan-kelemahanintelektual lainnya.
Bagi siapa yangdiantara kita memiliki kecerdasan, memilki kelebihan dalam menangkap ilmu-ilmuAllah, saya mengajak untuk secepatnya mensyukuri karunia Allah yang berupakecerdasan itu, dengan cara belajar memanfaatkan waktu setiap saat agar kecerdasanyang kita miliki bisa terasah dengan baik, dan insyaallah akan memperolehkesuksesan dalam hidup. Sebaliknya kepada siapa yang diantara kita yang tidakmemiliki kecerdasan intelektual yang tidak memadai, jangan sampai putus asa.Karena, sebetulnya kekurangcerdasan atau kelemahan yang kita miliki itu,hanyalah satu kondisi awal yang menekan pada diri kita. Kalau kita berusahadengan bersungguh, sambil berdo’a memohon agar Allah SWT membukakan hati danpikiran kita, insyaallah kita juga akan menghadapi sukses.
Inilahkira-kira suasana atau kondisi kehidupan kita di dunia ini, agar lebihmengetahui hal-hal yang menyangkut masa depan kita setelah kita mengenalmenyadari kondisi obyektif dari diri kita masing-masing. Berbahagialah kitayang memperoleh karunia kecerdasan dari Allah, tapi kemudian dia pandaibersyukur atas kecerdasan yang diterimanya itu. Sebagaimana berbagahagialanuntuk anak-anakku yang barangkali kurang cerdas, agak lemah dalam menghafal,kurang mampu dalam menganalisis, kesimpulan-kesimpulan dan sebagainya. Tapi terusberusaha untuk menutupi kekurangan-kekurangannya itu dengan cara yangbersungguh-sungguh dan dengan semangat yang tinggi. Dan mudah-mudahan kitasemua, dijauhkan oleh Allah SWT dari sifat-sifat orang yang sombong, takabbur,meremehkan di satu sisi dan kita juga diselamatkan dari sifat-sifat putus asa,rendah diri,  mudah patah semangat dansebagainya. Kita harus berusaha sekaligus berdo’a memohon agar usaha kita itudiberi as-salam, ar-rohmah, dan al-barokah dari Allah SWT.
Demikianlahreungan singkat ini, sekali lagi mari kita identifikasi, kenali diri kitasendiri agar kita bisa mengetahui penyakit-penyakit apa yang melekat pada dirikita dan kita bisa menyembuhkannya dengan cepat dan baik. Hadanallah waiyyakum ajma’ien wa akhiru da’wana anil hamdulillahi robbil ‘alamin. 

Kamis, 14 Maret 2013

Anak Akan Belajar Dari Apa Yang Mereka Alami Dalam Hidup


Bila anak hidup dengan penuh kritikan, 
ia akan belajar untuk mencela.
Bila anak hidup dengan penuh permusuhan, 
ia akan belajar untuk berkelahi.
Bila anak hidup dengan penuh penghinaan, 
ia akan belajar untuk bersikap malu.
Bila anak hidup dengan penuh perasaan malu, 
ia akan belajar untuk merasa bersalah.
Bila anak hidup dengan penuh toleransi, 
ia akan belajar untuk bersikap sabar.
Bila anak hidup dengan penuh semangat, 
ia akan belajar untuk percaya diri.
Bila anak hidup dengan penuh pujian, 
ia akan belajar untuk menghargai.
Bila anak hidup dengan penuh keadilan, 
ia akan belajar untuk bersikap adil.
Bila anak hidup dengan penuh rasa aman, 
ia akan belajar untuk beriman.
Bila anak hidup dengan penuh disetujui pendapatnya, 
ia akan belajar untuk menyukai dirinya sendiri.
Bila anak hidup dengan penuh pengakuan dan persahabatan, 
ia akan belajar untuk menemukan kasih di dunia ini.

Sabtu, 05 Januari 2013

Persatuan Sepak Sana Sepak Sini Indomanehsia (PSSSSI)

http://gambar.co
Dualisme Persatuan Sepak Sana Sepak Sini Indomanehsia (PSSSSIseperti menyaksikan dua bocah saling berebut bola, tontonan yang sangat menghibur plus membuat hati sedih. Sepak bola sebagai salah satu olah raga kini menjadi media kepentingan politik. Politisasi setiap bentuk lembaga di negara  Indomanehsia seolah menjadi lumrah, pasrah dan murah meriah. Kepentingan individu dan kelompoknya sendiri menjadi yang paling utama diatas kepentingan masyarakat.
Mereka mengatasnakaman segala bentuk penyelamatan atas nama sepak bola, mereka saling menyepak satu sama lain. Menyepak setiap bentuk ketidaksetujuan dengan tujuan kelompoknya. Siapa yang sepakannya mengiurkan maka dialah yang menang.
Negeri ini memang sungguh luarbiasa, atas nama  Indomanehsia bola enjadi politik cantik yang menggelitik, mendepak siapa saja yang ingin coba-coba mendepak. Kepentingan politik dalam dunia sepak sana sepak sini memuntingi hasrat mereka.
Sungguh ironis, masih adakah kepentingan rakyat di dalamnya? Masih adakah kepentingan olah raga di dalammnya? Masih adakah kepentingan Pair Play? Jika, pengurusnya saja bermain tidak pair play? Yang terjadi justru play-playan saja. Nyokkkkk.....Kita dolanan. (kangdidan.blogspot.com)

Jumat, 04 Januari 2013

Remaja dan Permasalahannya

Pengantar
            Masa remaja seringkali dihubungkan dengan mitos dan stereotip mengenai penyimpangan dan tidakwajaran. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya teori-teori perkembangan yang membahas ketidakselarasan, gangguan emosi dan gangguan perilaku sebagai akibat dari tekanan-tekanan yang dialami remaja karena perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya maupun akibat perubahan lingkungan.
            Sejalan dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri remaja, mereka juga dihadapkan pada tugas-tugas yang berbeda dari tugas pada masa kanak-kanak. Sebagaimana diketahui, dalam setiap fase perkembangan, termasuk pada masa remaja, individu memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi. Apabila tugas-tugas tersebut berhasil diselesaikan dengan baik, maka akan tercapai kepuasan, kebahagian dan penerimaan dari lingkungan. Keberhasilan individu memenuhi tugas-tugas itu juga akan menentukan keberhasilan individu memenuhi tugas-tugas perkembangan pada fase berikutnya.